Sabtu, 21 Januari 2012

artikel: MEDIA TIGA DIMENSI DALAM PENDEKATAN KONTEKSTUAL

                          MEDIA TIGA DIMENSI DALAM PENDEKATAN KONTEKSTUAL
Oleh:
Ketut Suardina, S.Pd


ABSTRAK   

          Kegiatan pembelajaran akan menarik bagi siswa apabila hal-hal yang dipelajari didekatkan dengan dunia nyata. Pembelajaran yang seperti ini merupakan pembelajaran inovatif yang menggunakan pendekatan kontekstual.  Hal penting dari pendekatan ini adalah pemanfaatan dunia nyata. Dunia nyata berperan sebagai media tiga dimensi yang berfungsi sebagai sarana bagi siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Beranjak dari hal tersebut, maka guru berperan sebagai fasilitator yang mampu memanfaatkan media tiga dimensi dalam pembelajaran berbasis kontekstual.


ABSTRAC

            The teaching and learning will interest for student if thre are connection with a real life. Such kind of teching and learning is contextual approaching. The most important thing of contextual approaching is real life.  Real life has a role as media of three dimensions which has function as media for the students in built their own knowledge. Furthermore, teacher has a role as facilitator which able to make a beneficial in order to use contextual teaching and learning.


PENDAHULUAN
Dewasa ini, dunia pendidikan telah banyak mengalami perubahan. Perubahan itu merupakan imbas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. Dampak dari perubahan tersebut secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi proses pembelajaran, khususnya di sekolah dasar. Proses pembelajaran yang dianggap kurang menarik bagi siswa mulai tergeser digantikan oleh proses pembelajaran yang lebih menarik (inovatif).
Ada kecenderungan bahwa kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik apabila kegiatan pembelajaran tersebut mampu dihubungkan dengan dunia nyata, atau  dapat dikatakan bahwa belajar akan lebih menarik jika ‘anak mengalami' apa yang dipelajarinya, bukan 'mengetahui'-nya. Pembelajaran yang berorieritasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi 'mengingat' jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan.jangka panjang, maka peran guru dalam hal ini adalah sebagai vasilitator dan dapat mengarahkan siswa serta memotiasi siswa untuk giat belajar. Sebagai vasilitator maksudnya adalah seorang guru mampu berperan sebagai peyedia vasilitas yang dibutuhkan  dalam proses pembelajaran.
Berkenaan dengan perilaku belajar siswa yang berupa ‘anak mengalami langsung' apa yang dipelajarinya, maka guru perlu merencanakan penggunaan media yang tepat. Tepat yang dimaksud adalah sesuai dengan karakteristik materi, karakteristik siswa dan lingkungannya sedangkan media merupakan segala bentuk perantara yang dapat menyalurkan pesan.  Dalam hal ini penggunaan media pembelajaran terbukti mampu meningkatkan daya tarik siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Media pembelajaran merupakan segala bentuk perantara yang dapat menyalur
Berdasarkan hal tersebut, salah satu langkah pembelajaran inovatif yang ditawarkan kepada guru untuk diterapkan dalam proses pembelajaran adalah penggunaan media tiga dimensi dalam pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)), yang implikasinya yaitu sisiwa memiliki ketertarikan yang kuat terhadap konsep yang disampaikan guru. Media tiga dimensi yang dimaksud adalah sekelompok media tanpa proyeksi yang penyajiannya secara visual tiga dimensional. Artinya bahwa media bersifat nyata serta dapat berupa benda asli dan bias juga berbentuk benda tiruan. Media ini sangat cocok dengan karakteristik pendekatan kontekstual.
Dipilihnya pembelajaran yang berbasis kontekstual sebagai pembelajaran yang dianggap mampu menciptakan siswa yang produktif dan inovatif adalah dengan alasan sebagai berikut (1) sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihapal, (2) melalui landasan filosofi konstruktivisme, CTL dipromosikan menjadi alternatif strategi pembelajaran yang baru. (Kunandar, 2007).
Pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning adalah pendekatan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan materi yang dibelajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa mengkontruksi pengetahuannya sendiri kemudian menghubungkannya dengan kehidupan keseharian mereka. Melihat pengertian tersebut maka peran median tiga dimensi dalam pembelajaran berbasis kontekstual sangat jelas yaitu sebagai objek nyata yang akan dipelajari oleh siswa.
Seorang guru harus mampu mengimplementasikan pendekatan kontekstual dengan mengefektifkan penggunaan media tiga dimensi. Hal ini salah satu kebutuhan yang sangat mandasar bagi efektifitas proses belajar mengajar. Bagi guru kebutuhan ini menuntut pemahaman yang matang terhadap hal-hal sebagai berikut: (1) pemahaman yang berkaitan dengan pendekatan kontekstual dan media pembelajaran tiga dimensi, (2) pemahaman tentang teori yang mendasari pendekatan kontekstual dan media tiga dimennsi, dan (3) pemahaman tentang keterkaitan antara pendekatan kontekstual dengan media tiga dimensi.
Tujuan umum pendekatan ini adalah membantu guru dalam mewujudkan pembelajaran yang inovatif efektif dan menyenangkan. Sedangkan tujuan khususnya adalah adalah membantu guru dalam memahami: (1) arti pendekatan kontekstual dan media tiga dimensi, (2) teori yang mendasari pendekatan kontekstual dan media tiga dimensi, dan (3) keterkaitan antara pendekatan kontekstual dengan media tiga dimensi
            Bagi calon guru termasuk mahasiswa konsep tentang keterkaitan antara media tiga dimensi dengan pendekatan kontekstual dapat bermanfaat sebagai sarana pengembangan diri dalam meraih kompetensi guru. Sedangkan bagi guru konsep ini bermanfaat sebagai refrensi pengembangan pengembangan diri dalam hal meningkatkan profesionalismenya sebagai seorang guru.

PENGERTIAN MEDIA PEMBELAJARAN TIGA DIMENSI
Sebelum membahas tentang media pembelajaran tiga dimensi, terlebih dahulu harus dipahami pengertian ’media’ dan ’media pembelajaran’.
Kata ”Media” berasa dari bahasa latin yaitu ”Medius” yang artinya ditengah, pengantar atau bisa juga berarti perantara.
Ali (dalam Tegeh, 2008) mendefinisikan media belajar sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (message), merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar siswa.
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar (Santyasa, 2007)
Melihat berbagai pengertian media tersebut, maka kita dapat dikatakan bahwa media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang berbentuk benda asli ataupun benda nyata yang di dalamnya terkandung pesan. Media pembelajaran dapat digunakan untuk membantu proses pemahaman peserta didik terhadap suatu konsep yang disampaikan guru.
Media tiga dimensi ialah sekelompok media tanpa proyeksi yang penyajiannya secara visual tiga dimensional (Santyasa, 2007).
Kelompok media ini dapat berwujud sebagai benda asli baik hidup maupun mati, dan dapat pula berwujud sebagai tiruan yang mewakili aslinya. Benda asli ketika akan difungsikan sebagai media pembelajaran dapat dibawa langsung ke kelas, atau siswa sekelas dikerahkan langsung ke dunia sesungguhnya di mana benda asli itu  berada. Apabila benda aslinya sulit untuk dibawa ke kelas atau kelas tidak mungkin dihadapkan langsung ke tempat di mana benda itu berada, maka benda tiruannya dapat pula berfungsi sebagai media pembelajaran yang efektif.
Media tiga dimensi yang dapat diproduksi dengan mudah, adalah tergolong sederhana dalam penggunaan dan pemanfaatannya, karena tanpa harus memerlukan keahlian khusus, dapat dibuat sendiri oleh guru, bahannya mudah diperoleh di lingkungan sekitar.
Media sederhana tiga dimensi memiliki kelebihan-kelebihan: memberikan pengalaman secara langsung, penyajian secara kongkrit dan menghindari verbalisme, dapat menunjukkan obyek secara utuh baik konstruksi maupun cara kerjanya, dapat memperlihatkan struktur organisasi secara jelas, dapat menunjukkan alur suatu proses secara jelas. Sedangkan kelemahan-kelemahannya adalah: tidak bisa menjangkau sasaran dalam jumlah yang besar, penyimpanannya memerlukan ruang yang besar dan perawatannya rumit (Moedjiono dalam Santyasa, 1992).

PENGERTIAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning atau CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru menghubungkan materi pelajaran yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Kunandar, 2007).
Ciri-ciri pendekatan kontekstual: 1) Menekankan pada pentingnya pemecahan masalah. 2) Kegiatan belajar dilakukan dalam  berbagai konteks 3) Kegiatan belajar dipantau dan diarahkan  agar siswa dapat belajar mandiri. 4) Mendorong siswa untuk belajar dengan temannya dalam kelompok atau secara mandiri. 5) Pelajaran menekankan pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda. 6) Menggunakan penilaian otentik
Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu (1) mengaitkan (relating) adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru. (2) mengalami (experiencing) merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif. (3) menerapkan (applying) yaitu siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistis dan relevan. (4) Bekerjasama (cooperating) yaitu siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata. Bentuk belajar terakhir adalah (5) mentransfer (transferring), yang berarti guru berperan membuat bermacam-macam pengelaman belajar dengan fokus pada pemahaman bukan hapalan (Yasa, 2010).

LANDASAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL
1.       Konstruktivisme (constructivism)
Konstruktivisme (constructivism) merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan  mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.
Dengan dasar, itu pembelajaran harus dikemas menjadi proses "menkonstruksi" bukan "menerima" pengetahuan. dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam  proses belajar dan mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru. Landasan berfikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektivis, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivis, straegi "memperoleh" lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah menfasilitasi proses tersebut dengan : (1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa, (2) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
Pengetahuan tumbuh berkembang melalui pengelaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru. Menurut Piaget, manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti kotak-kotak yang masing-masing berisi informasi bermakna yang berbeda-beda. Pengalaman sama bagi beberapa orang akan dimaknai berbeda-beda oleh masing-masing individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda. setiap pengalaman baru dihubungkan dengan kotak-kotak (struktur pengetahuan) dalam otak manusia tersebut. Struktur pengetahuan dikembangkan dalam otak manusia melalui  dua cara , yaitu asimilasi atau akomodasi. asimilasi maksudnya struktur pengetahuan baru dibuat atau dibangun atas dasar struktur pengetahuan yang sudah ada. Akomodasi maksudnya struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung dan menyesuaikan dengan hadirnya pengalaman baru.
2.      Menemukan (inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya. Topik mengenai adanya dua jenis binatang melata, sudah seharusnya ditemukan sendiri oleh siswa, bukan "menurut buku".
Siklus inkuiri : obsevasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hyphotesis), pengumpulan data (data gathering), penyimpulan (conclussion).
3.       Bertanya (questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari "bertanya". Sebelum tahu kota Palu, seseorang bertanya "Mana arah kota Palu? Questioning merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek ynag belum diketahuinya,
Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya  berguna untuk: (1) menggali informasi, baik administrasi maupun akademis, (2) mengecek pemahaman siswa, (3) membangkitkan respon kepada siswa, (4) mengetahui sejauh mana keinginantahuan siswa, (5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, (6) menfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru, (7) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari  siswa, (8) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa. 
Bagaimanakah penerapannya di kelas? Hampir pada semua aktifitas belajar, questioning dapat diterapkan. antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas, dan sebagainya. Aktifitas bertanya juga ditemukan ketika siswa berdiskusi, bekerja kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mengamati, dan sebagainya. Kegiatan itu akan menumbuhkan dorongan untuk "bertanya".
4.       Masyarakat Belajar (learning community)
Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama  dengan orang lain. Ketika seorang anak baru belajar meraut pensil dengan peraut elektronik, ia bertanya kepada temannya, "Bagaimana caranya? Tolong bantu aku!" Lalu temannya yang sudah biasa, menunjukkan cara mengoperasikan alat itu. Maka, dua orang anak itu sudah membentuk masyarakat belajar (learning community).  
Hasil belajar diperoleh dari "sharing" antara teman, antar kelompok, dan antara yang tahu  ke yang belum tahu. Di ruang ini, di kelas ini, di sekitar sini, juga orang-orang yang ada di luar sana, semua adalah anggota masyarakat-belajar. 
Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok yang anggotanya hiterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberi tahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan seterusnya. Kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorang "ahli' ke kelas. Misalnya tukang sablon, petani jagung, peternak susu. teknisi komputer, tukang cat mobil, tukang reparasi kunci, dan sebagainya. 
"Masyarakat-belajar" bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah, "Seorang guru yang mengajari siswanya" bukan contoh masyarakat-belajar karena komunikasi hanya terjadi satu arah, yaitu informasi hanya datang dari guru ke arah siswa, tidak ada arus informasi yang perlu dipelajari guru yang datang dari arah siswa. Dalam contoh ini yang belajar hanya siswa bukan guru. dalam masyarakat-belajar, dua kelompok (atau lebih) yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. 
Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi apabila tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu, semua pihak mau saling mendengarkan. Setiap pihak harus merasa bahwa setiap orang lain memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari. 
Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang lain bisa menjadi sumber belajar, dan ini berarti setiap orang akan sangat kaya dengan pengetahuan dan pengalaman. Metode pembelajaran dengan teknik "learning community" sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam pembelajaran terujud dalam: (a) pembentukan kelompok kecil, (b) pembentukan kelompok besar, (c) mendatangkan "ahli' ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, perawat, petani, pengurus organisasi, polisi, tukang kayu, dan sebagainya), (d) bekerja dengan kelas sederajat, (e) bekerja kelompok dengan kelas diatasnya, serta (f) bekerja dengan masyarakat.
5.       Pemodelan (modelling)
Komponen CTL selanjutnya adalah pemodelan. Maksudnya, dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olah raga, contoh karya tulis, cara melafalkan bahasa Inggris, dan sebaginya. Atau, guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, guru memberi model tentang "bagaimana cara belajar". 
Sebagian guru memberi contoh tentang cara bekerja sesuatu, sebelum siswa melaksanakan tugas. Misalnya, cara menemukan kata kunci dalam bacaan. Dalam pembelajaran tersebut guru mendemonstrasikan cara menemukan kata kunci dalam bacaan dengan menelusuri bacaan secara cepat dengan memanfaatkan gerak mata (scanning). Ketika guru mendemonstrasikan cara membaca cepat tersebut, siswa menagamati guru membaca dan membolak balik teks. Gerak mata guru dalam menelusuri bacaan menjadi perhatian utama siswa. Dengan begitu siswa tahu bagaimana gerak mata yang efektif dalam melakukan scanning. Kata kunci yang ditemukan guru disampaikan kepada siswa sebagai hasil kegiatan pembelajran menemukan kata kunci secar cepat. Secara sederhana, kegiatan itu disebut pemodelan. Artinya ada model yang bisa ditiru dan diamati siswa, sebelum mereka berlatih menemukan kata kunci, guru menjadi model. 
Dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberikan contoh temannya cara melafalkan suatu kata. Jika kebetulan ada siswa yang pernah memenangkan lomba baca puisi atau memenangkan kontes berbahasa Inggris, siswa itu dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya. Siswa "contoh" tersebut dikatakan sebagai model. Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai "standar" kompetensi yang harus dicapainya. 
Model juga dapat didatangkan dari luar. Seorang penutur asli berbahasa Inggris sekali waktu dapat dihadirkan di kelas untuk menjadi "model" cara berujar, cara bertutur kata, gerak tubuh ketika berbicara, dan sebagainya.
Bagaimanakah contoh praktek pemodelan di kelas? Hal-hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut. (1) Guru olah raga memberi contoh berenang gaya kupu-kupu di hadapan siswa, (2) Guru PKn mendatangkan seorang veteran kemerdekaan ke kelas, lalu siswa diminta bertanya jawab dengan tokoh itu, (3) Guru geografi menunjukkan peta jadi yang dapat digunakan sebagai contoh siswa dalam merancang peta daerahnya, (4) Guru biologi mendemonstrasikan penggunaan thermometer suhu badan, (5) Guru bahasa Indonesia menunjukkan teks berita dari Harian Republika, Padang Pos, dan sebagainya sebagai model pembuatan berita, (6) Guru kerajinan mendatangkan "model" tukang kayu ke kelas, lalu memintanya untuk bekerja dengan peralatannya, sementara siswa menirunya.
6.       Refleksi (reflection)
Refleksi juga bagian penting dalam pembelejaran dengan pendekatan CTL. Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Rfleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Misalnya, ketika pelajaran berakhir, siswa merenung "Kalau begitu, cara saya menyimpan file selama ini salah, ya! Mestinya, dengan cara yang baru saya pelajari ini, file komputer lebih tertata".
Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses. Pengetahuan dimiliki siswa diperluas melalui konteks pembelajaran, yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Guru atau orang dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. dengan begitu, siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya.
Kunci dari semua adalah, bagaimana pengetahuan itu mengendap di benak siswa. siswa mencatat apa yang sudah dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide baru.
Pada akhir prmbrlajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Realisasinya berupa: (a) pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, (b) catatan atau jurnal di buku siswa, (c) kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu, (d) diskusi, dan (e) hasil karya.
7.       Penilaian yang Sebenarnya (authentic assessment)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengindentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan sepanjang proses pembelajaran, maka assessment tidak dilakukan di akhir priode (cawu/semester) pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar (seperti Ujian Akhir Nasional), tetapi dilakukan bersama dengan secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.
Data dikumpulkan melalui kegiatan penilaian (assessment) bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar siswa. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa gar mampu mempelajari (learning how to learn) bukan ditekan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran.
Karena assessment menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Guru yang ingin mengetahui perkembangan belajar bahasa Inggris bagi para siswanya harus mengumpulkan data dari kegiatan nyata saat para siswa menggunakan bahasa Inggris, bukan pada saat para siswa mengerjakan tes bahasa Inggris. Data yang diambil dari kegiatan siswa melakukan kegiatan berbahasa Inggris baik di dalam kelas maupun di luar kelas itulah yang disebut data autentik.
Kemudian belajar dinilai dari proses, biukan melalui hasil. Ketika guru mengajarkan  sepak bola, siswa yang tendangannya paling bagus, dialah yang memperoleh nilai tinggi. Dalam pembelajaran bahasa asing (bahasa Inggris), siapa yang ucapannya cas-cis-cus, dialah yang nilainya tinggi, bukan hasil ulangan tentang grammarnya. Penilaian autentik menilai pengetahuan dan keterampilan (performansi) yang diperoleh siswa. Penilaian tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang lain. 
Adapun karakteristik autentic assessment yaitu: (a) dilaksanakan  selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, (b) bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, (c) yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta, (d) berkesinambungan, (e) terintegrasi, (f) dapat digunakan sebagai umpan balik (feed back).
Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa: (1)  Proyek/kegiatan dan laporannya, (2) Pekerjaan Rumah (PR), (3) Kuis, (4) Karya Tulis, (5) Presentasi atau penampilan siswa, (6) Demonstrasi, (7) Laporan, (8) Jurnal, (9) Hasil tes tulis, dan (10) Karya tulis.
Pada intinya dengan authentic assessment, pertanyaan yang ingin dijawab adalah "Apakah anak-anak belajar?", bukan "Apa yang sudah diketahui?". Jadi, siswa dinilai kemampuannya dengan berbagai cara, tidak hanya dinilai berdasarkan hasil ulangan tertulis.

KARAKTERISTIK PENDEKATAN KONTEKSTUAL
Adapun karakteristik pendekatan kontekstual adalah adanya unsur-unsur yaitu: (1) kerja sama, (2) saling menunjang, (3) menyenangkan, tidak membosankan, (4) belajar dengan bergairah, (5) pembelajaran terintegrasi, (6) menggunakan berbagai sumber, (7) siswa aktif, (8) sharing dengan teman, (9) siswa kritis guru kreatif, (10) dinding kelas dan lorong-lorong penuh hasil karya siswa, peta-peta, gambar-gambar, artikel, humor, dan lain-lain, (11) laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi juga hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan lain sebagainya.

PERANAN MEDIA TIGA DIMENSI DALAM PENDEKATAN KONTEKSTUAL
          Perhatikan bagan di bawah ini!









Melalui bagan tersebut dapat dijelaskan dengan pasti tentang Peranan Media Tiga Dimensi dalam Pendekatan Kontekstual. Seorang guru dalam suatu pembelajaran harus melakukan identifikasi tujuan yang ingin dicapai, materi pokok, dan merancang suatu pendekatan kontekstual yang disesuaikan dengan kurikulum dan materi pokok pembelajaran. Materi pokok yang dibawakan tentu akan memerlukan media tiga dimensi yang relevan untuk kelancaran proses pembelajaran. Dari persiapan-persiapan tersebut, hal yang paling penting diperhatikan agar pendekatan kontekstual dalam proses pembelajaran berhasil dengan baik adalah lingkungan disekitar siswa yang nantinya bias dimanfaatkan sebagai media. Pengalaman siswa juga hal yang sangat vital untuk diketahui oleh guru agar dalam proses pembelajaran benar-benar terbentuk proses yang berbasis kontekstual. Penglaman belajar siswa dapat digali kembali dan dikonstruksi lagi oleh siswa melalui pemberian umpan balik dengan bantuan media tiga dimensi baik dengan media tiga dimensi asli maupun tiruan.
    Pendekatan kontekstual dalam dalam konteks ini memadukan antara materi pokok yang dibawakan guru dengan situasi nyata atau pengalaman siswa yang diwujudkan melalui media tiga dimensi, sehingga terbentuk proses pembelajaran yang dapat menarik minat dan motivasi siswa untuk belajar. Perpaduan ini merupakan suatu bentuk proses pembelajaran yang inovatif dan efektif. Proses memadukan tersebut tentu harus didasari atas tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran.
    Melalui bagan di atas dapat juga dijelaskan mengenai sistematika yang mesti dilalui dalam menyusun rencana pembelajaran yang berbasis kontekstual. Dalam hal ini yang pertama kali dilakukan adalah mengenali tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Selanjutnya adalah menentukan materi dan memilih media tiga dimensi yang relevan untuk digunakan dalam pembelajaran. Langkah selanjutnya yaitu menganalisis karakteristik lingkungan tempat siswa serta mengumpulkan informasi tentang pengalaman siswa sehari-hari. Selanjutnya disusunlah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memadukan antara materi pokok dengan lingkuan atau pengalaman siswa.
Perlu disadari bahwa pembelajaran inovatif yang mengefektifkan media tigga dimensi dan pendekatan kontekstual harus mewujidkan suatu kerja sama, saling menunjang, menyenangkan, tidak membosankan, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis, guru kreatif, dinding kelas, dan lorong-lorong penuh hasil karya siswa. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi juga hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan lain-lain. Implikasi dari proses pembelajaran yang inovatif ini adalah siswa akan lebih termotivasi dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri serta terwujudnya suatu pembelajaran yang bermakna bagi siswa itu sendiri.
Hal-hal yang telah dijelaskan di atas mengisyaratkan pada kunci dari pendekatan kontekstual adalah “situasi dunia nyata”. Situasi dunia nyata hanya dapat dikondisikan apabila ada benda-benda nyata. Benda-benda nyata ini merupakan media tiga dimensi yang berperan sebagai katalisator dalam proses pembelajaran berbasis kontekstual. Media nyata dapat diperoleh dari lingkungan sekolah atau lingkungan terdekat dari kehidupan siswa, sehingga tidak sulit bagi siswa dan guru untuk memperoleh. Contohnya adalah bunga yang ada di kebun sekolah dapat digunakan sebagai media dalam pembelajaran IPA tentang materi bagian-bagian tumbuhan, batu, dan air kolam dapat digunalan sebagai media dalam pengenalan materi tentang benda padat dan benda cair, apel dapat digunakan dalam pembelajaran matematika tentang pengenalan konsep pecahan di kelas rendah, dan masih banyak lagi benda-benda di sekitar siswa yang dapat digunakan sebagai media dalam pembelajaran berbasis kontekstual.
Perlu disadari bahwa pendekatan kotekstual sangat menekankan kepada aktifitas belajar siswa dalam hal mengkonstruksi pengetahuannya  sendiri. Dalam proses mengkonstruksi ini tentu akan banyak menemui permasalahan jika dalam pendekatan hanya menggunakan media tiga dimensi yang bersifat nyata. Permasalahan tersebut timbul karena ada materi-materi pembelajaran yang memang tidak dapat dijangkau melalui penggunaan media nyata. Misalnya adalah pengenalan materi pengenalan organ tubuh manusia pada pembelajaran IPA, pengenalan kebudayaan hidup masa lampau dalam pembelajaran IPS dan yang lainnya. Permasalahan tersebut hanya dapat diatasi dengan media yang menyerupai objek aslinya.
Peran media tiga dimensi sebagai pengganti yang menyerupai benda pada dunia nyata sangatlah vital. Hal ini mengingat tidak semua benda nyata dapat dibawa langsung ke dalam kelas. Sebagai contoh, pada saat siswa mempelajari mata pelajaran IPA dengan materi kerangka manusia, seorang guru tidak mungkin membedah tubuh manusia untuk mengajarkan materi tersebut secara kontekstual, namun seorang guru dapat menggunakan torso (model kerangka manusia) agar siswa dapat dengan mudah memahami bagian-bagian kerangka manusia.
          Selain itu, ketika seorang guru akan menjelaskan materi tentang bencana tsunami, dengan adanya media tiga dimensi guru tersebut tidak harus menunggu saat-saat bencana itu tiba, namun seorang guru dapat menggunakan suatu media yang berupa simulator, yaitu media untuk mencontohkan bagaimana peristiwa tsunami tersebut terjadi, sehingga siswa dapat memahami bagaimana peristiwa itu terjadi. Dalam hal ini simulator dengan jelas dapat mensimulasikan bagaimana peristiwa tsunami itu terjadi.
          Beralih dari contoh di atas, peran lain media tiga dimensi adalah sebagai objek nyata yang dapat ditunjukkan pada siswa saat kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual. Media tiga dimensi yang digunakan dalam pendekatan kontekstual dapat berupa media yang diperoleh di sekitar lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Media tiga dimensi yang diharapkan paling banyak digunakan adalah media yang mudah diperoleh di sekitar lingkungan sekolah, sehingga pendekatan kontekstual yang diterapkan berlangsung efektif dan efisien.

PENUTUP
Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran pada dasar merupakan proses memadukan antara materi pokok yang dibawakan guru dengan situasi dunia nyata atau pengalaman siswa yang diwujudkan melalui media tiga dimensi, sehingga terbentuk proses pembelajaran yang dapat menarik minat dan motivasi siswa untuk belajar. Perpaduan ini merupakan suatu bentuk proses pembelajaran yang inovatif dan efektif. Proses memadukan tersebut tentu harus didasari atas tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Berkenaan dengan hal tersebuut guru dan calon guru hendaknya mampu menerapkan dan memanfaatkan media tiga dimensi dalam suatu pembelajaran yang kontekstual sehingga siswa merasa  termotivasi untuk lebih memahami materi yang disampaikan guru.




DAFTAR PUSTAKA


Komaruddin, dkk. 2000. Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah. Siliwangi: PT. Bumi Aksara.

Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Tegeh, I Made. 2008. Media Pembelajaran, Bahan Ajar Mata Kuliah Media Pembelajaran untuk Mahasiswa S1 PGSD. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Ruddyanto, dkk. 2008. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Denpasar: Departemen Pendidikan Nasional Pusat Bahasa Balai Bahasa Denpasar.

Santyasa. 2007. Landasan Konseptual Media Pembelajaran. Makalah Disajikan dalam Workshop Media Pembelajaran bagi Guru-Guru SMA Negeri Banjar Angkan Pada tanggal 10 Januari 2007 di Banjar Angkan Klungkung. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Yasa, Doantara. 2008. Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). Website: http://ipotes.wordpress.com/ 2008/05/13/pendekatan-kontekstual-atau-contextual-teaching-and-learning-ctl/: Diakses tanggal 25 April 2010.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar